Bab 46: 黄昏社的秘密
ID Sub Indo“Beijing Grand Theater……”
Bukankah itu teater tempatnya bekerja saat itu?
Chen Ling teringat hari saat dia tewas tertimpa lampu gantung dan melakukan perjalanan lintas waktu, hari itu dugaannya terjadi gempa bumi…… Jadi, apakah dia benar-benar telah kembali?
Di saat yang sama, sekelompok pejalan kaki juga menghentikan langkah mereka, menunjuk-nunjuk dan berbisik ke arah layar.
“Meteor merah?”
“Ngomong-ngomong, sepertinya aku juga melihatnya tadi pagi…… Tiba-tiba melesat begitu saja.”
“Hah, kenapa tidak menabrak bumi sekalian? Cepatlah kiamat, aku benar-benar sudah tidak ingin bekerja……”
“Omong-omong, apa-apaan gempa di area sangat kecil ini? Tadi pagi sama sekali tidak terasa getarannya? Jangan-jangan gempa itu benar-benar hanya mengincar bangunan-bangunan itu saja?”
“Berita bilang itu disebabkan oleh perubahan kutub magnet…… Lupakan saja, toh tidak sampai menggetarkanku.”
“……”
Seiring berakhirnya siaran berita, layar di gedung itu kembali beralih ke iklan. Orang-orang hanya berhenti sejenak, lalu berbalik dan pergi.
Hanya Chen Ling yang berdiri seorang diri di tempat, tampak berpikir.
Meteor merah……
Jadi, apakah mungkin perjalanan lintas waktunya juga ada hubungannya dengan meteor ini?
Sebuah bus melaju melewati Chen Ling, baru kemudian ia ditarik kembali dari lamunannya yang kacau. Melihat tanda merah “Rute 33” di bagian atas bus, seperti teringat sesuatu, ia langsung berlari menyongsong bus tersebut.
Sebuah bayangan buram melesat melewati trotoar, dan ia berhasil naik ke bus tepat sebelum pintu bus tertutup.
“Refleks anak muda ini boleh juga ya.” Sopir yang sudah berumur itu menggosok matanya. “Bahkan tidak kulihat bagaimana caramu tadi datang…… Atlet lari cepat, ya?”
Chen Ling baru sadar. Ia menunduk menatap kedua tangannya, alisnya semakin mengerut erat.
[Tarian Pembantaian]…… terbawa kembali olehnya?!
“Anak muda, silakan pindai kodenya.”
Sambil menjalankan bus, sang sopir menunjuk mesin pemindai pembayaran dengan dagunya, “Dua yuan.”
“Aku……” Chen Ling merogoh seluruh saku bajunya, “Aku tidak bawa uang.”
“Pindai kode untuk membayar, pakai uang apa lagi.”
“……Ponsel juga tidak ada.”
Saat mengucapkan kalimat ini, Chen Ling merasa dirinya seperti manusia purba yang keluar dari zaman batu……
“Aduh, kenapa harus mempersulit anak ini? Kebetulan uang kembalian belanjaanku tadi ada pecahan dua yuan, aku yang bayarkan untuknya.” Di kursi paling depan, seorang bibi berambut keriting mengambil dua koin dari sakunya dan memasukkannya ke dalam kotak dengan suara berdenting.
“……Terima kasih, Bibi.”
Chen Ling berterima kasih dengan sopan.
“Anak muda, kamu pemain opera ya? Bibi biasanya juga suka nonton opera. Eh, peran apa yang biasa kamu bawakan?”
Mendengar perkataan sang bibi, Chen Ling baru sadar bahwa ia saat ini masih mengenakan jubah opera merah mencolok yang tampak sangat kontras di dalam bus.
“Aku, aku cuma nyanyi iseng-iseng saja,” jawab Chen Ling dengan canggung.
Kursi di dalam bus sudah penuh, jadi ia berpegangan pada tiang pegangan, bergoyang perlahan mengikuti laju kendaraan sambil mengobrol seadanya dengan sang bibi.
Seiring terlewatinya satu demi satu halte di luar jendela, hati Chen Ling perlahan-lahan menjadi tegang. Melirik sekilas nama halte berikutnya, ia perlahan bergeser ke pintu belakang bus, dan begitu bus berhenti sempurna, ia langsung melompat turun dengan cepat.
Di seberang halte, terdapat sebuah kompleks perumahan.
Chen Ling melepas jubah operanya yang mencolok, lalu berjalan lurus memasuki kompleks perumahan. Dengan hafal ia melewati jalan setapak, dan tiba di depan sebuah bangunan apartemen bertingkat menengah.
Melihat gedung itu berdiri utuh tanpa kerusakan, Chen Ling akhirnya bisa bernapas lega…… Di sinilah rumahnya.
Yang paling ia takutkan adalah jangkauan gempa merembet hingga ke sini, dan kedua orang tuanya mengalami nasib yang sama sepertinya…… Untunglah, semuanya aman.
Chen Ling melangkah masuk ke pintu unit gedung, namun ia mendapati bagian dalamnya dipenuhi dengan kain putih berkabung. Hatinya langsung berdegup kencang, ia pun segera menaiki lift menuju lantai sembilan.
Begitu pintu lift terbuka, suara tangisan langsung menyapa telinganya.
“Caiyun…… Jangan menangis lagi, kalau terus menangis seperti ini, bagaimana kesehatanmu nanti……”
“Benar, kalau A Ling masih hidup dan melihatmu seperti ini, betapa sakit hatinya?”
“A Ling anak yang baik, tapi takdirnya benar-benar…… Haish.”
Chen Ling berdiri terpaku di dalam lift, tatapannya menembus pintu yang setengah terbuka, melihat banyak sosok sedang mengelilingi seorang wanita paruh baya, menghibur dan menyatakan rasa belasungkawa.
Chen Ling mengenal mereka. Mereka adalah kerabat keluarganya di Beijing—bibi-bibi dan para sanak saudara, semuanya berkumpul di sini. Dan wanita yang dikelilingi di tengah-tengah itu tidak lain adalah ibunya.
Wanita paruh baya itu memeluk sebuah foto hitam putih di dalam dekapannya, menangis sejadi-jadinya hingga basah kuyup oleh air mata.
Sosok di dalam foto itu…… adalah Chen Ling sendiri.
Dua orang kerabat berdiri di sudut ruangan, berbisik-bisik.
“Di mana ayah Chen Ling?”
“Masih di rumah sakit, mengurus pemakaman A Ling dengan pihak sana…… Katanya menyuruh Caiyun pulang lebih dulu untuk merapikan barang peninggalannya.”
“Sudah lihat…… jenazah A Ling?”
“Sudah lihat.” Kerabat itu mengangguk. “Kasihan anak itu…… kepalanya berlubang besar, kabarnya tertimpa lampu gantung.”
“Waktu di rumah sakit, Caiyun memegang tangan A Ling dan menangis selama lebih dari satu jam, tapi akhirnya tetap ditarik pergi oleh ayahnya……”
“Haish…… Tuhan tidak adil.”
“Mari, hibur Caiyun. Bagaimanapun juga, urus dulu pemakaman A Ling dengan baik……”
“Benar……”
Chen Ling berdiri di dalam lift, bagaikan patung yang menyaksikan semua ini.
Ia ingin melangkah masuk ke dalam rumah, namun ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan dirinya di hadapan para kerabat dan ibunya…… Pikirannya sangat kacau.
Tepat pada saat itu, pintu lift menutup otomatis.
Seiring pintu lift logam yang perlahan menutup rapat, pintu rumah Chen Ling didorong terbuka dari dalam. Para kerabat memapud Caiyun, berjalan keluar.
Bum——
Pintu lift tertutup. Mungkin ada seseorang di lantai bawah yang menekan tombol, kabin lift pun mulai perlahan-lahan turun ke bawah……
“……Ibu.” Baru pada saat itulah Chen Ling, dengan bibir pucat pasi, memanggil satu kata tersebut dengan suara serak.
Ia menatap bayangan dirinya sendiri pada pintu lift logam, di dalam benaknya kembali terbayang pemandangan sang ibu yang berlutut sambil menangis tadi. Ia merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya, bagaikan diiris-iris sembilan belas pisau……
Ia menarik napas dalam-dalam, seolah telah mengambil keputusan bulat, lalu menekan tombol lantai sembilan dengan panik.
Ia ingin menemui ibunya sekali lagi.
Namun, lift itu terus meluncur turun ke bawah.
Di saat yang sama, tulisan hijau tua yang familier muncul dalam kehampaan:
[Batas waktu nomor seri telah tiba]
[Pembacaan terputus]
Bum——
Kabin lift jatuh meluncur dengan kecepatan tinggi!
……
“Ibu—!!”
Di tengah hamparan salju lebat, Chen Ling tiba-tiba mendesak bangkit dari tanah.
Ia mengambil napas terengah-engah, pupil matanya melebar tanpa sadar. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia mendapati dirinya masih berada di area kuburan massal.
“Sialan…… Sebenarnya apa yang terjadi?!” Chen Ling sadar sepenuhnya, tak kuasa menahan sumpah serapahnya.
Tadi, ia nyaris mengira dirinya benar-benar telah kembali…… Tapi begitu membuka mata, ia tetap berada di tempat terkutuk ini!
Pandangan Chen Ling tertuju pada diska lepas (flashdisk) di atas salju.
[“Melaluinya, kau mungkin bisa lebih memahami kami……”]
Sebenarnya organisasi tempat Chu Muyun berada itu apa?
Kenapa mereka memiliki diska lepas?
Bahkan bisa mengirimnya kembali ke kehidupan sebelumnya?
Kedua tangan Chen Ling yang menumpu tubuhnya mengepal erat tanpa sadar.
Ia menarik napas dalam-dalam, menyambar diska lepas itu ke dalam genggamannya, lalu berbalik dan berlari kencang menuruni gunung……
……
Toko Kelontong Xiaofang.
Di dekat meja kasur, wanita itu malas-malas merenggangkan tubuhnya, menatap senja yang perlahan meredup di luar pintu, lalu berkata:
“Dia mungkin tidak akan datang.”
“Tidak, dia akan datang.” Chu Muyun duduk di kursi, menjawab dengan penuh keyakinan sambil serius membolak-balik buku.
“Kenapa begitu yakin? Selama bertahun-tahun ini, bukankah sudah banyak orang yang menolak undangan Twilight Society?”
“Red King bilang dia akan datang, maka dia pasti akan datang.”
Selesai Chu Muyun berucap, pintu toko kelontong didorong kuat-kuat dari luar!
Chen Ling berdiri di tengah salju di luar pintu, dadanya naik turun dengan kencang, seolah ia baru saja berlari tergopoh-gopoh dari suatu tempat.
“Kita harus bicara baik-baik.” Ia mengangkat diska lepas itu, berucap tegas satu patah kata demi satu patah kata.