Bab 21: 下乡
ID Sub IndoSetelah mendapat jawaban dari Jiang Yuguang, Chen Minghao melangkah ke luar pintu dan mengajak Chen Meixia yang berdiri di depan pintu untuk masuk.
"Om, ini kakak saya, Chen Meixia," kata Chen Minghao memperkenalkannya kepada Jiang Yuguang.
Setelah memperkenalkan Chen Meixia, ia berbalik dan berkata kepada Chen Meixia, "Kak, ini om saya, kau panggil saja beliau Kepala Bagian Jiang."
Chen Meixia berdiri di sana dan menyapa dengan lantang, "Kepala Bagian Jiang."
Jiang Yuguang tidak berdiri, hanya mengangguk kepada Chen Meixia, sekadar membalas sapaan.
Chen Minghao pun tidak bersikap sombong, ia tetap berdiri menemani Chen Meixia. Melihat keduanya masih berdiri, Jiang Yuguang menunjuk sofa di sebelahnya dengan tangannya dan berkata kepada Chen Minghao, "Minghao, kau dan kakakmu duduklah, aku mau menanyakan beberapa hal kepada Kawan Chen."
Mendengar itu, Chen Minghao duduk bersama Chen Meixia di sofa. Keduanya hanya menaruh setengah bagian pinggul di sofa, yang membuat Jiang Yuguang cukup puas.
"Chen, di Kantor Partai dan Pemerintahan Kecamatan Shawan kau menangani pekerjaan apa secara spesifik?" Jiang Yuguang bertanya langsung tanpa berbelit-belit.
"Selamat siang, Kepala Bagian Jiang. Di Kantor Partai dan Pemerintahan Kecamatan Shawan saya terutama menangani urusan logistik dan kesejahteraan," kata Chen Meixia dengan hati-hati.
"Bisa ceritakan sedikit tentang keadaan keluargamu?" tanya Jiang Yuguang.
"Nama saya Chen Meixia, tahun ini usia saya 32 tahun. Suami saya bernama Ye Zhikang, wakil kepala Kecamatan Shawan. Kami punya seorang anak laki-laki, tahun ini delapan tahun, kelas dua. Karena alasan anak itulah saya ingin dipindahkan bekerja ke kota kabupaten. Mutu pengajaran di desa memang tidak bisa dibandingkan dengan di kota, dan saya tidak ingin menghambat masa depan anak saya. Mohon bantuan Kepala Bagian Jiang," Chen Meixia menjelaskan keadaan keluarganya secara singkat dan padat.
Setelah mendengar penjelasannya, Jiang Yuguang berkata:
"Chen, kata keponakanku, bantuanmu kepadanya sangat besar. Di saat dia paling kesulitan, kalianlah yang menolongnya, dan dia sangat berterima kasih. Begitu mendengar kau punya masalah, tanpa berpikir panjang dia langsung menelepon aku, om yang baru dia kenal dua hari. Meski kelihatannya lancang, aku justru menghargainya. Walaupun dia tidak bermarga Jiang, dia tetap keturunan keluarga Jiang, dan orang-orang keluarga Jiang selalu tahu membalas kebaikan. Permintaanmu sudah dia sampaikan padaku. Ada instansi tertentu yang kau ingin tuju?"
"Om, saya rasa paling baik dia ke tempat Om saja. Kalau ada Om yang menjaganya, saya tidak khawatir kakak saya diperlakukan tidak adil." Sebelum Chen Meixia bicara, Chen Minghao mendahuluinya.
Mendengar kata-kata Chen Minghao, Jiang Yuguang memandang Chen Meixia dan bertanya, "Bagaimana pendapatmu sendiri?"
Chen Meixia orang yang cerdas, mana mungkin ia tidak memahami maksud Chen Minghao. Mendengar Jiang Yuguang bertanya kepadanya, ia berkata, "Semuanya terserah keputusan Kepala Bagian Jiang. Kalau tidak merepotkan, saya juga berharap bisa bekerja di bawah pimpinan Anda."
Jiang Yuguang tidak memberi pernyataan akhir. Ia mengangkat tangan melihat jam tangannya dan berkata, "Sudah hampir tengah hari, aku masih ada urusan jadi tidak akan menahan kalian. Kalian pulanglah dan tunggu kabar."
Chen Minghao dan Chen Meixia keluar lalu masuk ke mobil yang terparkir di luar kompleks Komite Partai Kabupaten.
Karena sudah mendekati tengah hari, kalau mereka bergegas pulang, pasti akan melewatkan jam makan. Ye Zhikang mengusulkan agar mereka mencari rumah makan kecil di kota kabupaten untuk duduk sebentar. Chen Minghao tidak berpura-pura menolak, ia dengan senang hati menyetujuinya.
Karena ada pengemudi di situ, mereka semua tidak membicarakan soal pekerjaan.
Setelah selesai makan, pengemudi lebih dulu meninggalkan meja makan, baru Ye Zhikang bertanya dengan penasaran kepada mereka.
"Bagaimana hasilnya?"
"Tidak ada jawaban yang jelas, hanya disuruh pulang menunggu kabar." Itu perkataan Chen Meixia.
"Apa mungkin Kepala Bagian Jiang tidak akan mengurusnya?" tanya Ye Zhikang.
"Tenang saja, Kak Ye, beliau sudah menyetujuinya," jawab Chen Minghao dengan pasti.
Pada malam hari, Ye Zhikang dan istrinya kembali membicarakan kejadian hari itu.
"Meixia, bagaimana sikap Kepala Bagian Jiang terhadapmu hari ini?" tanya Ye Zhikang.
"Sikapnya sulit dikatakan, cukup serius, tapi bicaranya padaku sangat sopan. Sepertinya Minghao sudah banyak bercerita tentang kita di depannya. Terakhir dia hanya bertanya aku ingin ditempatkan di mana, dan Minghao menjawab untukku, katanya biar ke Kantor Komite Partai Kabupaten di bawah Kepala Bagian Jiang, supaya tidak ada yang berani menindasku." Chen Meixia menceritakan kejadian pagi itu secara singkat.
"Dari nada bicaramu, urusan ini seharusnya sudah berhasil. Jadi kau tidak menyebutkan sendiri kau ingin ke mana?" tanya Ye Zhikang.
"Menurutku di antara instansi-instansi di kota kabupaten, hanya kantor pemerintahan yang bagus, dan yang terbaik adalah bisa masuk ke Kantor Komite Partai Kabupaten. Jadi ketika Minghao mengatakannya, aku juga menyatakan setuju. Oh, Zhikang, siapa itu Jiang Yusheng?" kata Chen Meixia, tiba-tiba mengingat nama yang didengarnya pagi itu.
"Jiang Yusheng saja kau tidak tahu? Dulu beliau Sekretaris Komite Partai Kota kita, beberapa tahun lalu dipindahkan ke provinsi, sepertinya naik jabatan. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan beliau?" Ye Zhikang juga bertanya dengan penasaran.
"Masa? Beliau juga om Minghao? Bagaimana mungkin? Kalau begitu, mana mungkin Minghao ditempatkan ke tempat ini, sampai istrinya pun hilang." Setelah mendengarnya, Chen Meixia bergumam sendiri.
"Apa yang kau katakan?" tanya Ye Zhikang.
"Jiang Yusheng juga om Minghao." Chen Meixia lalu menceritakan kepada Ye Zhikang potongan-potongan percakapan yang ia dengar pagi itu di depan pintu ruang kerja Jiang Yuguang di Kantor Komite Partai Kabupaten.
"Masa? Jiang Yusheng itu anak Jiang Zhan, itu benar. Jiang Yusheng adalah kakak sepupu Jiang Yuguang. Jangan-jangan Minghao benar-benar cucu luar dari Tuan Tua Jiang." Ye Zhikang berkata dengan agak sulit mempercayainya.
"Bukankah bagus kalau dia punya konesi sekuat itu? Aku malah berharap dia memang begitu. Oh, iya, kalau dia tidak mengatakannya, cukup kita saja yang tahu, jangan sampai bocor dan malah menyulitkan dia," Ye Zhikang mengingatkan Chen Meixia.
"Tidak perlu diingatkan, aku belum sampai tidak pakai otak begitu," kata Chen Meixia tidak mau kalah.
Tahun Baru Imlek baru saja lewat, cuaca mulai menghangat, tepat pada masa pengelolaan lahan gandum musim dingin. Qiu Yaoming pun bersiap mengunjungi belasan desa administratif yang berada di wilayahnya. Ini adalah aturan yang Qiu Yaoming tetapkan untuk dirinya sendiri setelah menjadi pemimpin nomor satu di Kecamatan Shawan.
Setiap hari raya penting, misalnya Festival Pertengahan Musim Gugur dan Tahun Baru Imlek, ia harus turun ke rumah-rumah petani untuk memahami kehidupan mereka. Pada musim sibuk bertani, ia harus berkunjung dan melakukan penelitian ke setiap desa, menyelesaikan sejumlah masalah yang mendesak bagi para penduduk desa. Seperti sekarang, setelah Tahun Baru Imlek, cuaca mulai menghangat, inilah saat krusial pengelolaan lahan gandum musim dingin. Pada masa ini gandum perlu disiram dan diairi, dan pekerjaan ini menyangkut pasokan bahan bakar serta tenaga listrik. Jika masalah-masalah ini sampai menghambat waktu tanam, kerugian bagi para petani bisa dikatakan sangat besar, karena gandum adalah tanaman pangan utama sepanjang tahun di daerah itu.
Kali ini, Qiu Yaoming membawa wakil kepala kecamatan yang menangani bidang tersebut, Ye Zhikang, lalu Kantor Pengelolaan Ekonomi, Stasiun Mesin Pertanian, Stasiun Penyuluhan Teknologi Pertanian, dan sekretarisnya sendiri, Chen Minghao. Berbeda dari biasanya ketika ia mengayuh sepeda berkeliling ke beberapa desa terdekat, kali ini mereka memakai dua jip milik kecamatan, mulai dari Desa Xiaowangzhuang yang paling jauh dari kantor kecamatan, dan setiap desa harus dikunjungi.
Desa Xiaowangzhuang bukan hanya desa administratif yang paling jauh dari pemerintahan kecamatan, tetapi juga salah satu desa terpencil di Kabupaten Fengle. Dari desa mereka berjalan ke depan kurang dari satu kilometer, sudah sampai di Kabupaten Shuangqiao yang sama-sama termasuk Kota Linhe.
Karena jaraknya yang jauh, tempat ini hampir menjadi dunia yang dilupakan orang, dan berbagai konflik pun paling menonjol di desa ini. Setiap musim sibuk bertani, Qiu Yaoming membawa sekelompok orang datang ke sini lebih dulu untuk melakukan penelitian, dengan fokus membantu menyelesaikan sejumlah masalah mereka. Tahun ini pun sama.
Mereka langsung datang ke kantor komite desa. Saat itu pukul sembilan lebih pagi, tetapi pintu kantor komite desa tertutup rapat. Ada penduduk desa yang suka ikut campur melihat ada mobil datang, lalu pergi memberi tahu sekretaris partai desa, Wang Dianqi.
Saat itu Wang Dianqi sedang di lahan garapannya sendiri, menggunakan traktor tangan untuk menyiram lahan gandumnya. Mendengar ada orang berseru bahwa ada mobil datang, ia tahu bahwa orang dari pemerintahan kecamatan telah tiba. Karena sudah beberapa tahun berturut-turut, pada rentang waktu ini selalu ada pimpinan dari kecamatan yang datang, ia menyerahkan pekerjaannya kepada anaknya dan bergegas menuju kantor komite desa.
Ketika ia melihat lima enam orang berdiri di depan kantor komite desa, ia mempercepat langkah dan berlari ke sana.
Setelah tiba di depan rombongan itu, ia langsung berkata, "Maaf, Pimpinan, sudah membuat semuanya lama menunggu." Lalu ia membuka ruang kerjanya sendiri dan mempersilakan mereka masuk.
Melihat Wang Dianqi berlumur tanah dari kepala sampai kaki, Qiu Yaoming tahu bahwa ia baru bergegas datang dari lahan gandum. Ia juga memahami para kader "dua komite desa" ini: selain menjadi kader komite desa, mereka masih punya satu identitas lain, yaitu petani. Bertani adalah pekerjaan utama mereka. Meskipun menjadi kader desa bisa mendapat penghasilan tertentu setiap bulan, jumlahnya sangat kecil, tidak cukup untuk menghidupi satu keluarga, kecuali kalau ia korupsi dan melanggar hukum, memeras para penduduk desa.
Wang Dianqi mengambil teko untuk menyalakan api dan memasak air bagi mereka, tetapi Qiu Yaoming mencegahnya dan berkata kepadanya:
"Kau tidak perlu berlaku sesopan itu. Hari ini kami datang ke desa kalian terutama ingin memahami kesulitan dan masalah apa yang ada sekarang. Kalau ada hal yang perlu diselesaikan oleh kecamatan untuk kalian, sampaikan sekaligus. Jangan sampai begitu kami pergi, sebagian orang di desa kalian menyusul datang ke pemerintahan kecamatan untuk membuat keributan."
Alasan Qiu Yaoming berkata begitu kepadanya bukan tanpa dasar.
Menurut informasi yang diketahui Chen Minghao, Desa Xiaowangzhuang punya lebih dari 2.000 penduduk, dan sebagian besar warga bermarga Wang. Karena itu, cabang partai desa dan komite desa semuanya dikuasai oleh orang-orang bermarga Wang. Setiap kali ada dukungan dan keuntungan dari kabupaten atau kecamatan untuk desa, misalnya barang material atau dana, pada dasarnya tidak akan sampai ke keluarga bermarga minoritas; kalaupun sampai, jumlahnya sangat sedikit. Karena itu, setiap kali muncul situasi semacam ini, penduduk bermarga minoritas selalu pergi ke pemerintahan kecamatan untuk mengajukan pengaduan dan menyampaikan masalahnya.
Mendengar Qiu Yaoming berkata demikian, Wang Dianqi tersenyum dengan hati tidak tenang dan tidak berani bersuara. Terhadap apa yang dikatakan Qiu Yaoming ia tidak bisa membantah, karena semua itu kenyataan.
Setelah Qiu Yaoming selesai bicara, ia mengeluarkan buku catatannya dari laci meja kerja dan melaporkan satu per satu kepada Qiu Yaoming masalah-masalah dalam produksi bercocok tanam musim semi yang saat ini perlu dibantu diselesaikan oleh kecamatan.
Setelah mendengar berbagai masalah yang diajukan Wang Dianqi, Qiu Yaoming memberi jawaban untuk hal-hal yang bisa diselesaikan di tempat, sedangkan untuk hal-hal yang perlu dibahas secara organisasi ia memberitahu Wang Dianqi agar menunggu dua hari sampai para pimpinan kecamatan mengadakan rapat pembahasan, baru akan diselesaikan.
Chen Minghao sejak awal hingga akhir tidak mengucapkan satu kata pun. Yang ia butuhkan sekarang adalah belajar memahami karakteristik pedesaan setempat, menjalankan tugasnya sebagai sekretaris dengan setia, mencatat satu per satu masalah yang diajukan desa dan jawaban Qiu Yaoming, agar kelak jika ada persoalan bisa diperiksa kembali.
Setelah menyelesaikan urusan di Desa Xiaowang, Qiu Yaoming kembali membawa rombongannya bergegas menuju desa berikutnya, Chenzhuang.
Di dalam mobil, Qiu Yaoming melihat jam tangannya dan bergumam sendiri, "Sepertinya kita harus makan siang di Chenzhuang."