Bab 21: Tiba di Sekolah, Mu Ningxue
ID Sub Indo……
Asrama Mahasiswa
"Kak Fan, sudah waktunya pergi. Ini penilaian tahunan, telat itu nggak bagus," kata Zhang Xiaohou pada Mo Fan.
"Kau pergi dulu, aku mau latihan pengendalian sebentar lagi," kata Mo Fan.
"Belajar dadakan, ya."
Beberapa penghuni asrama akhirnya tak menunggu Mo Fan, dan dengan penampilan rapi mereka pun tiba di tempat ujian.
Tentu saja tempat ujiannya bukan di ruang kelas dengan selembar kertas soal dan pena yang bergerak cepat. Teori sihir memang diujikan juga, tapi porsi nilainya tidak besar; yang paling penting tetaplah penilaian praktik tahunan ini.
Sederhananya, ini untuk memeriksa kondisi latihan semua murid setelah setahun sejak kebangkitan mereka, lalu dari situ dilakukan pembagian kelas besar-besaran.
Mo Fan adalah orang terakhir yang tiba di lapangan latihan. Biasanya semua orang mengikuti pelajaran praktik di sini, tapi hari ini penataan lapangan jelas berbeda. Selain meja pengawas ujian yang disusun setengah melingkar, ada juga sebuah Batu Rasa Bintang yang mengapung.
Batu Rasa Bintang itu kelihatan agak mirip kerikil hitam bulat, sebesar semangka, dan saat ini ditopang oleh sebuah tumpuan batu di bagian depan lapangan latihan.
Batu Rasa Bintang inilah instrumen terpenting dalam penilaian para murid.
Penilaian tahunan sebenarnya sangat sederhana, sama seperti kebangkitan pada upacara dulu. Para murid hanya perlu meletakkan tangan mereka di atas Batu Rasa Bintang yang besar itu, dan para pengawas langsung bisa menilai hasil latihan setahun murid tersebut dari tingkat kecerahan batu itu.
Seperti ujian masuk perguruan tinggi, takdir para murid sangat mungkin ditentukan oleh satu lembar penilaian ini. Di dunia ini pun ada tolok ukur keras yang sama: entah lanjut belajar dan mendapat kesempatan lebih baik, atau angkat kaki dan cari jalan hidup lain.
"Ingat, aku pernah bilang pada kalian, kuat-lemahnya cahaya Debu Bintang mewakili tinggi-rendahnya energi sihir di dalam Debu Bintang kalian. Murid-murid Kelas Delapan, saatnya membuktikan hasil kerja keras kalian setahun ini. Pancarkan cahaya Debu Bintang kalian!" kata Xue Musheng, wali kelas, dengan wajah penuh semangat.
"Guru Xue, maaf, aku mungkin akan diminta keluar dari sekolah," kata seorang gadis yang tampak sangat lemah dengan mata berlinang air mata. Wajah kecilnya yang gelisah dan cemas itu membuat murid-murid di sekitarnya merasa kasihan dan sayang.
"Mana mungkin, kamu selalu berusaha keras. Jangan pesimis begitu."
"Tapi aku ini bodoh. Meskipun setiap hari berlatih dengan sungguh-sungguh, Debu Bintangku tetap kelihatan begitu lemah," kata gadis bernama He Yu itu.
"He Yu, jangan takut. Kalaupun kamu tidak lulus, kan masih ada aku. Di keluarga cukup satu orang saja yang jadi penyihir," kata Lu Jianhua, ketua asrama Mo Fan, sambil menepuk dadanya pada He Yu.
"Minggir sana kau, siapa tahu kau sendiri yang tersingkir!"
"Jangan bercanda! Begitu tanganku kutaruh di situ, cahayanya pasti bikin mata anjing titanium-mu buta!" kata Lu Jianhua dengan angkuh.
Tak lama kemudian, tiga pimpinan sekolah beserta para pengawas akhirnya tiba.
Para pengawas pada dasarnya dari bagian kesiswaan, yang mengurus kedisiplinan. Biasanya murid-murid paling takut melihat mereka.
"Baik, tenang. Penilaian tahunan hari ini akan ditinjau oleh beberapa anggota dewan sekolah. Kuharap kalian menunjukkan sikap dan semangat kalian sebagai penyihir!" Xue Musheng mengingatkan murid-muridnya.
Para pengawas menempati posisi masing-masing. Tiga puluh kelas murid baru, 1.500 orang berseragam SMA Sihir Tianlan, berdiri di lapangan latihan dengan aura yang megah, tersusun dalam kotak-kotak barisan.
Sebelum penilaian, tentu saja ada pidato kepala sekolah, begitu setiap tahun.
Setelahnya, sambutan dari dewan sekolah.
Ketika Mu He melangkah ke podium dan dengan berapi-api menggambarkan masa depan indah seorang penyihir pada para murid, di tengah kerumunan Mo Fan justru tak bisa menahan tawa.
Sambutannya benar-benar penuh harapan pada generasi muda. Padahal, seperti apa sebenarnya watak si Mu He ini, Mo Fan lebih tahu daripada siapa pun.
"Hari ini juga hari yang sangat istimewa."
"Karena kita berhasil mengundang penyihir wanita paling luar biasa dari Kota Bo. Pada usia 15 tahun dia langsung diterima secara istimewa oleh Akademi Sihir Ibu Kota. Kurasa banyak dari kalian sudah pernah mendengar legendanya... Benar, dialah Mu Ningxue! Mari kita sambut dengan tepuk tangan jenius sihir yang seharusnya seangkatan dengan kalian, namun sudah lama melangkah ke jenjang universitas ini!" kata Mu He dengan suara lantang.
Begitu kata-kata itu keluar, seluruh lapangan yang berisi lebih dari seribu orang pun bergejolak.
"Ya ampun, Mu Ningxue! Aku dengar saat kebangkitannya, kekuatan elemen es-nya langsung membekukan tanah di bawah kakinya jadi bongkahan es."
"Itu cuma rumor. Punyaku ini yang paling akurat: aku dengar dia cuma butuh delapan bulan untuk menguasai keahlian tingkat dasar elemen es—Sulur Es."
"De... delapan bulan?? Ya Tuhan, aku sudah setahun di sekolah ini, tapi baru menguasai 5 butir bintang! Kok bisa jarak antarmanusia sejauh itu!!"
"Itu semua bukan poin pentingnya, oke... Poin pentingnya, dia juga seorang gadis cantik luar biasa lho, benar-benar berbakat sekaligus jelita, putri kebanggaan Kota Bo!"
Seketika seluruh murid di sekolah ramai membicarakannya. Dari reaksi semua orang, jelas mereka sama sekali tidak asing dengan Mu Ningxue.
Mereka tak menyangka bahwa pada penilaian tahunan hari ini mereka bisa melihat jenius sihir legendaris itu!
"Kak Fan, Kak Fan, itu si Putri Kecil, benar-benar dia! Dia sampai datang ke sekolah kita." Zhang Xiaohou dengan wajah penuh semangat menarik lengan baju Mo Fan di sebelahnya.
Mo Fan mengangkat kepala memandang ke podium, dan memang melihat sebuah sosok cantik berdiri diam di sana, angkuh bagai bunga lotus di tengah salju. Gaun putih salju bertali tinggi yang ketat menampilkan lekuk tubuhnya yang memikat sepenuhnya.
Yang paling menarik perhatian bukan sepenuhnya tubuhnya yang memancarkan pesona seorang gadis yang seksi, melainkan rambut panjangnya yang berwarna putih keperakan dengan belahan tengah, yang begitu menakjubkan...
Meski cuacanya panas menyengat, wanita yang berdiri angkuh di podium itu bagaikan bidadari salju yang melangkah turun ke dunia manusia dari salju dan es Pegunungan Tianshan—begitu indah, tak tersentuh duniawi, dan tak boleh dinodai!
Seluruh guru dan murid sekolah justru terdiam terpana setelah melihat wanita ini muncul.
Berkali-kali mereka mendengar kisah bagus tentang Mu Ningxue, namun belum pernah melihat wujud aslinya. Siapa yang menyangka bahwa dia benar-benar seperti dewi es yang masih dalam masa remaja—entah dari aura, cara berpakaian, maupun rambut panjang perak saljunya yang berkibar, yang dimilikinya sejak lahir.
Inikah Mu Ningxue??
Keluhuran dan keangkuhan yang terpancar dari dalam tulangnya!
Mo Fan sendiri juga terpaku menatapnya. Ini mungkin kali pertama dia melihat Mu Ningxue setelah kejadian itu, ya? Sudah 3 tahun?
Dulu, mereka sekelompok anak-anak suka memanggilnya Putri Kecil, dan dia memang benar-benar putri di mata semua orang: tinggal di kastil di atas gunung, memakai pakaian dan aksesori yang entah berapa kali lipat lebih indah daripada gadis-gadis biasa, ditambah wajahnya yang memesona dan menggemaskan...
Namun dalam 3 tahun ini, Mo Fan merasa dia hampir tak bisa mengenalinya lagi.
Perubahannya benar-benar besar sekali.
Dia yang dulunya terhitung cerah dan mudah didekati, kini setelah memasuki masa remaja justru terasa semakin sulit didekati...
Apakah aura kepribadiannya yang berubah, atau seiring bertambahnya usia, perbedaan status yang begitu besar itulah yang menimbulkan pikiran semacam ini secara psikologis?
"Kak Fan, dulu kau seharusnya kabur saja bersama Putri Kecil..." kata Zhang Xiaohou sambil menghela napas, menatap Mu Ningxue yang menonjol bagai bangau di antara kawanan ayam.
"Otakmu kebentur pintu toilet sampai jadi bodoh?"
"Eh, aku cuma bilang begitu iseng saja."