Bab 31: 箱黄金
ID Sub IndoYang bisa disebut harta karun pastinya tidak mungkin cuma satu peti. Li Laifu mematikan rokok di tangannya, lalu kembali melempar tali pancing ke sungai. Setelah menusukkannya ke tanah lumpur, ia menemukan peti lagi? Setelah dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan, kali ini ia tidak buru-buru melihatnya, melainkan terus lanjut.
Sampai jam 12, Li Laifu sudah kelelahan sampai terkapar di lereng. Lima puluh peti besi besar, benar-benar mengejutkan. Dengan kekuatan pikiran ia masuk ke dalam ruang penyimpanan, membuka 50 peti itu, dan 49 di antaranya penuh emas yang tersusun rapi.
Satu peti 900 kati, kali 49 peti…, kalau emas sebanyak itu dihitung dengan satuan ton?
Kalung mutiara, kalung batu feicui, masing-masing ada belasan sampai dua puluh untai, berbagai hiasan kepala dari emas, lalu botol tembakau hirup yang tertata rapi, jumlahnya ada empat lima puluh buah, ada yang dari emas, perak, batu yu, feicui, akik, dan lain-lain, dan ukirannya semua sangat halus. Ada juga satu benda berkerangka emas yang menggantung sebuah ding dari batu yu putih tanpa cacat sedikit pun, gelang gantungannya pun dibuat dari batu yu, dan di kerangka emasnya terukir naga melingkar. Indah, benar-benar indah.
Ia membuka lagi tiga kotak kayu: vas leher angsa biru-putih, piring besar biru-putih, vas mei biru-putih, dan di sisinya diletakkan lempengan-lempengan tanpa tulisan, ada yang hijau feicui, ada yang batu yu putih, jumlahnya sampai beberapa puluh buah. Yang dari batu yu putih tak perlu dibahas, semuanya barang bermutu tinggi; tapi lempengan feicui yang hijau mengilap itu jauh lebih menonjol, dan yang penting jumlahnya ada beberapa. Orang ini benar-benar pemboros. Jelas tujuh delapan lempengan ini berasal dari satu bongkah bahan yang sama, warnanya pun hampir serupa. Yang penting, lebih besar sedikit atau lebih kecil sedikit kan tidak masalah, tapi kenapa sialnya semuanya berukuran sama? Pasti para pemboros ini menggerus habis banyak bahan. Sayang sekali.
Soal keramik biru-putih ia tidak mengerti, tapi ada empat vas dinding yang tersambung jadi satu, kecil dan mungil, warna serta lukisannya juga bagus, dan kayu pada kerangkanya sekali lihat saja sudah tampak kayu cendana merah. Yang penting, di hati Lin Laifu, kalau bukan cendana merah memang tidak pantas untuk barang seindah ini. Bahkan orang setengah paham seperti dia pun tahu benda ini indah.
Aura tokoh utama ini benar-benar terlalu menyilaukan. Langsung merdeka secara finansial, sampai-sampai tak punya tujuan hidup lagi.
Rasanya hidupnya sudah mencapai puncak…
Sambil merokok ia berjalan ke arah Dongzhimen. Di ibu kota memang ada banyak pasar merpati, semuanya di luar gerbang-gerbang kota. Tempat lain ia tidak tahu, ia hanya tahu di luar Dongzhimen ada satu, dan itu pun karena tahun lalu ayahnya pernah membawanya sekali. Setelah mengingat-ingat, sama sekali tidak semenakutkan seperti yang ditulis di novel-novel zaman kehidupannya yang dulu. Kalaupun ada yang merazia pasar merpati, itu cuma orang-orang dari kantor kelurahan. Kalau memang tidak diizinkan buka? Kalau kantor polisi sampai bergerak, pasar merpati sudah lama lenyap.
Sambil merokok ia berjalan-jalan di jalan besar. Ada yang mengayuh sepeda dengan barang di jok belakang, ada juga perempuan-perempuan menjinjing keranjang yang berjalan tergesa-gesa — semuanya menuju pasar merpati. Di zaman ini, selain anak-anak, orang dewasa mana yang tidak pergi ke sana? Perdagangan pribadi memang dilarang, tapi rumah siapa yang tidak pernah kekurangan sesuatu? Ditambah lagi sekarang masih masa sulit, jadi pasar merpati bisa bertahan karena ada orang-orang yang sengaja menutup satu mata. Yang utama, para pejabat itu sendiri juga perlu barter barang. Segala macam kupon ada di tangan pejabat; orang biasa mana punya kupon sepeda, kupon radio, kupon mesin jahit — semuanya cuma bisa diangankan.
Karena itu pasar merpati selalu tidak kekurangan orang berpakaian jas Zhongshan dengan pena tersemat di kantong.
Setelah berjalan dua jam, ia keluar dari Dongzhimen, kakinya sudah gemetaran.
Sepuluh menit lagi berjalan, ia sampai di kaki gunung. Terlihat kerumunan orang berjejal-jejal, cahaya lampu berkelap-kelip. Itu karena para penjual barang baru menyalakan lampu sebentar untuk menerangi kalau ada orang berjongkok melihat barangnya; begitu orang itu pergi, senter langsung dimatikan, kalau tidak akan menghabiskan baterai.
Ia mencari selembar kain di dalam ruang penyimpanan, melubanginya tiga tempat, lalu menutupi wajahnya dan berjalan menuju pasar merpati.
Ia melihat dua orang yang menjaga pintu masuk. "Jual barang? Atau mau beli?"
Li Laifu tahu, kalau menjual barang harus membayar satu sen; kalau membeli, mereka tidak peduli.
Ia menepuk tas sekolah militer di depan dadanya dan berkata, "Tidak ada barang untuk dijual."
Setelah masuk, kerumunan berjejal-jejal. Di dalam ada segala macam perlengkapan: penjual sepatu, penjual wajan, bahkan penjual kain, dan ada juga yang memasang papan bertuliskan menjual kupon.
"Kupon apa saja yang kau punya?" tanya Li Laifu.
Meski orang itu menutupi wajah, tingginya lebih dari satu meter tujuh puluh, tubuhnya tegap. Dengan suara berat ia bertanya, "Kau mau kupon apa?"
Li Laifu melihat orang ini begitu songong, lalu asal berkata, "Kau punya kupon sepeda?"
Orang itu langsung mengeluarkan saputangan dari kantong bajunya, membukanya, mengambil sehelai kupon dari dalamnya dan menyodorkannya, "Lima puluh yuan."
"Sialan, kau benar-benar punya!"
"Jangan-jangan kau tidak punya uang dan cuma iseng main-main di sini?" Orang itu menggoyangkan kupon lalu menyelipkannya kembali ke kantong.
Tidak punya uang? Li Laifu berpikir, emasku saja sudah dihitung dengan satuan ton, dan kau bilang aku tidak punya uang.
Ia langsung mengeluarkan 50 yuan dan menyodorkannya. "Keluarkan kuponnya, siapa yang kau bilang tidak punya uang," kata Li Laifu.
Orang itu menerima 50 yuan, dan Li Laifu menerima kupon sepeda. Ia melihatnya sekilas, memang asli! Kalau palsu ia juga tidak akan bisa membedakan — semata-mata untuk gaya-gayaan. Lalu ia menatap penjual kupon itu dan berkata, "Sekarang aku mau menawar, masih boleh? Masih ada waktu?"
Orang itu tertawa dan berkata, "Adik kecil, jangan bercanda." Ia menyelipkan uang ke kantong baju, bahkan sengaja mengancingkannya.
"Sial, aku keburu mengeluarkan uang tanpa pikir," gerutu Li Laifu.
"Kau punya kupon daging?" Bukannya untuk beli daging saja, di zaman ini banyak orang punya kupon, tapi yang bisa benar-benar dapat daging sedikit sekali. Kalau pabrik pengolahan daging tidak menjual daging babi, punya kupon pun cuma pajangan. Kalau saat daging dijual kau tidak kebetulan datang, punya kupon juga sia-sia.
Ia teringat daging kecap merah yang mau dimakan malam ini; tanpa kupon daging jelas tidak bisa.
"Lima puluh sen per kati, kau mau berapa?"
"Buset, daging saja cuma enam puluh sen lebih, kupon daging saja kau minta lima puluh sen." Kali ini Li Laifu sudah tahu cara menawar.
Merasa Li Laifu cukup menarik, orang itu berkata, "Dari suaramu, umurmu pasti belum besar. Adik kecil, ini zaman apa? Di sebelah ibu kota kita saja sudah ada orang mati kelaparan. Kau pasti tidak sering datang ke sini, jadi kuomong terus terang saja: sekarang beras di sini bisa terjual dua yuan lima, tepung jagung sudah satu yuan delapan, tepung ubi dan tepung sorgum juga satu yuan lima. Coba lihat, di pasar merpati ini siapa yang bukan orang yang mau beli bahan pangan?"
Melihat orang ini bicara cukup jujur, apalagi Li Laifu sudah merdeka finansial, ia tidak terlalu perhitungan. "Kau masih punya kupon kapas?" Barang ini harus disiapkan banyak, dalam sepuluh tahun ke depan tetap barang langka.
"Kupon kapas juga tidak murah, satu yuan lima per kati, aku cuma punya 20 kati."
"Sialan, koperasi jual kapas saja satu yuan lima, kuponmu harganya sama dengan kapasnya?"
"Adik kecil, kakak bicara jujur padamu, di zaman ini memang tidak ada harga yang wajar."
"Yang kau bilang cukup masuk akal, cuma tetap saja tidak memberiku kesempatan menawar. Bisa kurang tidak?" tanya Lin Laifu.
"Kalau kau ambil semuanya, harganya 35 yuan. Kau kasih 33, bagaimana?" kata orang itu sambil tertawa.
Akhirnya berhasil menawar turun dua yuan, dan ia memberikan 33 yuan.
Di sebelahnya ada penjual kain. Menjual kain di sini pastinya tidak perlu kupon. "Bagaimana kau menjual kainmu ini?"
Ini seorang perempuan yang menutupi wajahnya dengan kerudung kepala, "Kainku ini tidak dijual, hanya ditukar dengan bahan pangan."