Bab 49: 赠人梅花?
ID Sub IndoAnak itu sangat penurut, memeluk ayam dan berdiri di situ saja. Li Laifu meraba-raba kantongnya—barulah dia menyadari satu masalah: selain gula putih dan susu bubuk, dia tidak punya camilan apa pun. Ya sudah, sekalian saja dia merokok dan mengobrol garing.
Li Laifu bertanya, "Siapa namamu?"
Anak itu menyedot ingusnya, lalu berkata, "Namaku Wang… Gou Dan."
"Kau tidak punya nama resmi?"
Anak kecil itu menyedot ingusnya lagi, lalu menjawab, "Tidak ada."
Mata Li Laifu berbinar—toh sedang tidak ada kerjaan—dia berkata sambil tersenyum, "Karena kau bermarga Wang, berarti ini takdir. Kenapa namanya Wang Gou Dan? Mulai besok kau kupanggil Wang Sicong saja. Kalau sudah besar, siapa pun yang kau temui bilang saja mau berteman, tidak peduli… ah, sudahlah! Kau tidak punya ayah yang hebat."
Memang benar-benar obrolan garing, kira-kira anak lima-enam tahun ini juga tidak paham. Li Laifu menoleh melihat ke arah pintu kamar rawat, tidak ada dokter yang berlarian, artinya si kakek masih bertahan.
Melihat anak kecil ini begitu kurus—kepala besar dengan leher kecil kurus—Li Laifu mengembuskan napas dan berkata, "Tunggu aku di sini, peluk terus ayamnya."
Anak itu mengangguk sambil menggumam, "Hmm."
Li Laifu berjalan ke luar dinding halaman. Toh sekarang tempat yang tidak ada lampu jalan gelap total. Dia menghisap sebatang rokok, lalu mengeluarkan dua karung dari dalam ruangnya, mengambil 50 kati tepung jagung yang dicampur bonggol jagung, lalu tiga buah labu besar. Dia juga mau mengeluarkan uang 50 yuan—toh uangnya yang lima ribu lebih itu tidak akan habis dipakai. Sekalian jadi orang baik sampai tuntas, mengantar Buddha sampai ke Barat, dia juga mengeluarkan 20 kati kupon pangan, dan dari belasan ekor ayam hutan dia ambil dua ekor. Dia menjinjing dua karung tepung, dan menggigit ayam hutan itu dengan mulutnya di dekat leher.
Li Laifu masuk kembali ke rumah sakit dan menaruh barang-barang itu di gerobak. Di gerobak kayu itu memang ada jerami, jadi pas sekali semua barangnya bisa ditutupi.
Barang-barang ini kira-kira bisa membuat keluarga berempat itu melewati musim dingin ini. Tahun 60-an… haah!
Anak itu berlari-lari mengelilinginya. Li Laifu mengeluarkan pisau lipat kecil dan berkata, "Jangan tanya-tanya yang tidak perlu, kalau tidak burungmu kupotong, ya?"
Astaga, anak kecil ini satu tangan mencekik leher ayam, satu tangan menutupi selangkangannya sendiri—gerakannya sudah cukup terlatih pula.
Li Laifu buru-buru mengambil alih ayam itu, sebentar lagi anak ini bisa mencekik mati ayamnya.
Li Laifu mengeluarkan uang 50 yuan dan kupon pangan, menggulungnya, lalu menyuruh anak itu memegangnya dan berkata, "Nanti kalau nenekmu keluar, berikan ini padanya. Aku pergi."
Li Laifu memeluk ayam di dadanya, satu tangan memegang pisau kecil, dan berkata, "Pegang uangnya kuat-kuat. Kalau hilang, burungmu kupotong, ya?"
Li Laifu berjalan ke arah pintu rumah sakit. Anak itu memandanginya sampai menghilang dalam kegelapan.
Setelah si nenek keluar, dia melihat cucunya yang berdiri di tempat semula dan bertanya, "Gou Dan, mana kakak tadi?"
"Nek, akhirnya kau keluar juga! Tanganku sudah kesemutan." Dia menyerahkan uang di tangannya kepada si nenek.
Si nenek terpekik "Ah!" lalu buru-buru menutup mulutnya. Dia langsung memeluk cucunya dan bertanya dengan suara pelan, "Gou Dan, uang ini dari mana?"
"Nek, kau kenapa teriak-teriak?" Anak perempuan kecil di kamar rawat juga berlari keluar.
"Ssst! Nak, kau jangan bicara. Gou Dan, bilang pada Nenek, ini dari mana?"
Gou Dan kecil menjawab jujur, "Dari kakak tadi."
Si nenek menghela napas lega. Dia tadi menyangka cucunya mencuri.
Tapi tiba-tiba dia merasa ada yang tidak benar—gulungan uang di tangannya banyak sekali. Si nenek melihatnya sekilas dengan bantuan cahaya lampu di pintu rumah sakit, anak perempuan di belakangnya juga memanjangkan leher untuk melihat. "Ya Tuhan!" si nenek tidak sadar berucap.
Si nenek berpegangan pada gerobak dan langsung terduduk di tanah. Dia buru-buru melihat ke kiri dan ke kanan, setelah yakin tidak ada orang barulah dia lega.
Si nenek duduk di situ, menghitung uang dan kupon pangan di tangannya, air matanya berjatuhan bercucuran. Dia tahu mereka bertemu dengan orang yang baik hati. Dia bertanya, "Kakak itu bilang apa?"
Gou Dan kecil berpikir sebentar, lalu berkata, "Kakak itu bilang aku harus pegang uangnya kuat-kuat. Kalau aku berani melepaskannya, dia akan memotong burungku pakai pisau kecil."
Si nenek dan anak perempuan itu sama-sama tertawa. Ini senyum yang sudah dua-tiga tahun tidak pernah ada di keluarga mereka.
Gou Dan kecil berpikir lagi, lalu berkata, "Kakak itu juga bilang tidak boleh tanya-tanya, tidak boleh bicara sembarangan, kalau tidak burungku tetap akan dipotong."
Si nenek tersenyum sambil mengusap kepalanya. Anak perempuan itu datang mau membantu si nenek berdiri. Si nenek satu tangan berpegangan pada gerobak, satu tangan berpegangan pada cucu perempuannya, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu di dalam gerobak…?
Si nenek berdiri dengan sigap, menyingkap jerami, dan yang pertama dia lihat adalah dua ekor ayam hutan, dan ada dua karung tepung juga? "Gou Dan, ini bagaimana ceritanya?" tanya si nenek.
"Itu juga dari kakak tadi," baru saja Gou Dan kecil selesai bicara,
si nenek langsung bertanya, "Tadi kenapa kau tidak bilang?"
Gou Dan kecil menutupi selangkangannya dan berkata, "Kata kakak itu, kalau bicara sembarangan, burungku akan dipotong. Kalau tidak punya burung, aku harus kencing seperti kakak perempuanku."
Si nenek langsung tertawa. Anak perempuan itu langsung menendang bokong adiknya.
Si nenek melihat ke kiri dan ke kanan, untunglah tengah malam begini tidak ada orang. Dengan bantuan cahaya lampu di pintu, si nenek meraba dan memeriksa satu karung, lalu karung yang lain.
Si nenek meneteskan air mata tapi tidak berani menangis bersuara, mulutnya bergumam sendiri, "Ada harapan, ada harapan, keluarga kita punya harapan."
Anak perempuan itu bersandar di pundak si nenek, menangis menemani neneknya. Sementara Gou Dan kecil bangkit, menepuk-nepuk bokongnya, lalu menggenggam segenggam tepung jagung dan hendak memakannya.
"Gou Dan, jangan dimakan! Kalau ini kau makan, kau bisa mati kesakitan karena tidak bisa berak."
"Gou Dan, kakak itu pergi ke arah mana?" tanya si nenek.
Gou Dan kecil memegang tepung jagung di tangannya, memandanginya sampai mengiler, lalu menunjuk ke arah pintu gerbang.
"Nak, kau dan Gou Dan sujud tiga kali ke arah sana. Nenek tidak boleh bersujud, itu bisa memperpendek umur si dermawan. Kalian bersujud tiga kali menggantikan Nenek."
Kedua anak itu bersujud, si nenek berkomat-kamit, "Kalian harus ingat baik-baik wajah dermawan itu."
Setelah selesai bersujud, Gou Dan kecil bertanya, "Nek, kapan kita bisa makan?"
Tahun lalu si kakek pernah dirawat di rumah sakit, jadi si nenek dan anak perempuan itu sudah paham jalurnya. Di zaman ini rumah sakit tidak punya kantin, tapi ada dapur umum.
"Nak, kau bawa Gou Dan berbaring saja di gerobak ini. Nenek pergi membuatkan bubur jagung untuk kalian, sekalian mengabarkan berita ini pada kakekmu."
…………
Li Laifu keluar dari pintu gerbang rumah sakit, kedua tangan di kantong, tas sekolah tergantung di lehernya, bersiul dengan gaya seperti berandal. Dia sama sekali tidak pernah berpikir untuk mencemaskan negara dan rakyat, atau membantu negara. Dia hanya ingin menjalani hidupnya sendiri dengan baik.
Tapi… kalau bertemu orang yang kesulitan, ya sekalian dibantu. Li Laifu tiba-tiba berhenti melangkah, teringat sepertinya ada orang yang pernah mengatakan sesuatu, apa itu, memberi orang bunga mei….
Oh iya! Yang benar: memberi orang setangkai mawar, tangan sendiri jadi wangi sekali. Ini kalimatnya, Li Laifu mengangguk-angguk.
Sekarang hatinya sendiri pun wangi sekali. Di kehidupan sebelumnya dia ini berandal, tak disangka di zaman ini dia bisa membantu orang lain. Membantu orang membuat orang bahagia—kalimat ini ternyata memang benar! Yang penting, ini juga bisa meningkatkan tingkat pendidikannya.
Dia berjalan menuju Dongzhimen. Sampai di Dongzhimen, hatinya sudah punya trauma, kakinya tanpa sadar menepi ke kanan, takut dari sebelah kiri muncul lagi seorang nenek yang bertanya, "Anak muda? Kau tahu ke mana kepalaku pergi?" Kira-kira Li Laifu bisa langsung mati di tempat.