Bab 39: Pos Perbatasan Puncak Salju
ID Sub Indo……
Perintah masuk-keluar gerbang jelas juga berada di tangan lelaki bernama Zhan Kong itu. Seratus siswa unggulan turun dari kendaraan, lalu semuanya masuk ke Perkampungan Kecil Gunung Puncak Salju.
Perkampungan itu sangat sederhana, hanya ada satu jalan utama. Di jalan utama itu berdiri cukup banyak kios dan lapak kecil, terlihat tak berbeda dari pasar sebuah kota kecil.
Hanya saja, yang dijual di sini bukan ayam, bebek, ikan, atau daging, melainkan semua barang yang dibutuhkan para penyihir untuk bertempur dan berlatih.
"Mari, mari, alas kaki sihir kualitas tinggi! Saya bilang ke Anda, ini benda bagus. Tahu nggak iblis apa yang paling cepat berlari…? Betul, Iblis Pelari. Ini dibuat dari kulit kaki belakang Iblis Pelari, disihir dengan pola sihir jalur angin, ditambah batu angin murni sebagai sumber energi, begitu dipakai berlari… dijamin membuat Iblis Serigala Bermata Satu cuma bisa melotot di belakang. Kalau Anda mau beli, saya kasih murah, kelihatannya Anda memang berjodoh dengan benda pusaka ini."
"Er Tuzi, sudahlah, jangan membual. Barangmu itu pantas disebut perkakas sihir? Sepasang Nike sembarangan pun lebih enak dipakai daripada benda itu."
"Ngawur! Ini dari Iblis Pelari yang kami bunuh dengan mengorbankan dua orang! Bagianku persis kulit kaki belakangnya, ini alas kaki sihir asli!" Er Tuzi langsung bertengkar dengan orang yang menyindirnya.
Sedikit lebih ke depan, ada satu lapak lagi, di sana terpajang batu-batu sihir beraneka warna.
Batu sihir itu benda yang sederhana: batu istimewa yang terbentuk di tempat-tempat dengan elemen api, angin, guntur, atau tanah yang sangat kental, di dalamnya mengandung energi yang mirip dengan energi sihir di dalam debu bintang seorang penyihir. Walaupun tidak bisa langsung digunakan oleh penyihir, batu itu bisa dipasang pada banyak senjata sihir dan perkakas sihir, untuk menyediakan energi yang tak habis-habis.
Pengetahuan seperti ini sudah dijelaskan guru di kelas, dan Mo Fan pun menyimaknya dengan serius.
Katanya, banyak kali batu sihir yang telah dimurnikan sepenuhnya bisa dipakai sebagai mata uang.
Konsumsi batu sihir sangat besar, sebenarnya setara dengan sumber energi di dunia sains.
Awalnya Mo Fan juga mengira ponsel, komputer, dan peralatan rumah tangga tentu semuanya pakai listrik. Baru kemudian ia tahu bahwa pembangkit listrik di sini bukan pembangkit tenaga air, bukan pula kincir angin, tapi memakai batu sihir aliran guntur.
Tak ada pilihan lain, Mo Fan harus menerima kenyataan bahwa leluhur aliran cahaya adalah Edison. Selain itu, Watt yang menemukan mesin uap sehingga dunia memasuki revolusi industri… benar, dia adalah penyihir aliran api. Prinsip mesin uap adalah diagram sihir aliran api, dan mesin itu digerakkan dengan batu sihir aliran api.
Jadi, di dunia ini tidak ada minyak bumi, tenaga air, tenaga angin, atau tenaga listrik. Yang menjadi tumpuan hidup justru batu-batu sihir ini!
Lalu dari mana batu sihir itu datang?
Tentu saja dari alam!
Yang sangat kejam adalah, para iblis juga sama-sama sangat membutuhkan batu sihir. Di satu sisi batu sihir adalah makanan penting mereka, dan lebih dari itu, merupakan sumber energi penting untuk memperkuat kemampuan mereka.
Maka, rintangan terbesar manusia dalam mengumpulkan, mencari, dan menggali batu sihir bukanlah alam yang keras, melainkan para iblis yang juga hidup mengandalkan batu sihir.
Iblis memiliki permusuhan naluriah terhadap manusia.
Coba bayangkan, berapa banyak perangkat teknologi energi sihir di seluruh kota. Barang-barang itu benar-benar seperti ransum bagi para iblis, termasuk manusia sendiri yang juga merupakan hidangan lezat bagi mereka. Karena itu, pertarungan antara penyihir manusia dan iblis tak pernah berhenti.
Mungkin inilah perbedaan terbesar antara dunia asal dan dunia sihir.
Di dunia asal, manusia menempati posisi penguasa. Mau menyapu bersih tempat mana pun, itu cuma soal satu rudal.
Tapi di dunia sihir, senjata panas tidak ada. Yang ada hanyalah penyihir.
Mungkin justru karena senjata panas tak bisa diwujudkan, para iblis malah menguasai wilayah yang lebih luas.
Sebagian besar manusia hanya bisa hidup di dalam kota, dan kota membutuhkan penyihir untuk melindunginya.
Inilah juga sebabnya kedudukan penyihir selamanya lebih tinggi daripada orang biasa. Bukan hanya karena mereka sendiri menguasai kekuatan yang dahsyat, tapi lebih karena misi mereka bersifat suci!
……
"Bang Fan, dalam penempaan kali ini kita harus tampil bagus. Kudengar nilai evaluasi penempaan berhubungan langsung dengan ujian masuk universitas kita. Bobotnya sampai 20 persen!" kata Zhang Xiaohou di samping Mo Fan.
Mo Fan mengangguk.
Hal ini sudah lama disampaikan oleh wali kelas mereka, Xue Musheng.
Penempaan ini sebenarnya salah satu mata pelajaran dalam "ujian nasional", karena nilainya ditentukan oleh pihak militer, yaitu instruktur utama dalam penempaan kali ini.
Instruktur utama menilai C atau A akan langsung menentukan apakah seorang penyihir masuk universitas sihir unggulan atau universitas sihir biasa!
Seperti Akademi Ibu Kota tempat Mu Ningxue sekarang berada, saat mereka menerima siswa, nilai penempaan setidaknya harus A.
Mo Fan sama sekali tak rela hanya berada di tempat kecil seperti Kota Bo, sedangkan sihir tingkat lebih tinggi hanya bisa dipelajari di tempat besar dan di universitas.
Dalam penempaan ini, ia juga berharap bisa mendapat nilai di atas A, sehingga ia punya keberanian untuk masuk universitas sekelas Akademi Ibu Kota!
"Para instruktur ini sudah 'diurus' oleh sekolah. Meskipun kau cuma bermalas-malasan di sini satu-dua bulan, kau tetap akan diberi setidaknya B atau C, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan." Wang Sanpang mendekat sambil tersenyum.
"Benar, angkatan-angkatan sebelumnya selalu begitu." Seorang siswa lain yang tahu urusan dalam juga mengangguk.
"Iya juga, sekolah pasti berharap para instruktur memberi nilai tinggi."
"Berkumpul di lapangan."
"Berkumpul, berkumpul!"
Setelah Luo Yunbo berseru lantang, semua siswa dengan cepat berkumpul di lapangan tengah Perkampungan Kecil Gunung Puncak Salju.
Jumlah mereka tak sedikit, seluruhnya 100 orang, semuanya memakai seragam SMA Sihir Tianlan.
Setelah 100 orang berbaris rapi, dengan cepat hal itu menarik kerumunan para penyihir menganggur di pos perhentian. Satu per satu tampak sangat tertarik, di wajah mereka terpancar senyum sinis yang aneh.
"Lihat itu, siswa magang angkatan baru datang. Hahaha, kita bisa menyaksikan lagi para pemula mempermalukan diri dengan berbagai cara," kata seorang lelaki berwajah tirus seperti tikus.
"Betul sekali. Selama masa siswa magang datang, pos perhentian ini paling ramai. Coba tebak, angkatan ini berapa yang akan sampai kencing di celana karena ketakutan?" kata seorang lelaki bertubuh kekar yang tampaknya kapten sebuah tim pemburu, sambil menjulurkan kepala.
"Kutebak paling sedikit 30 orang!"
"Sisanya yang 70 langsung pingsan ketakutan??"
Para siswa berbaris di lapangan, tapi mereka dengan cepat mendengar bisik-bisik para veteran pos perhentian yang menonton itu.
Sebagian besar dari mereka tampak menikmati kesialan orang lain, bahkan sedikit pun tak menyembunyikan cemoohan mereka terhadap para siswa.
100 siswa kelas unggulan dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok 20 orang. Di depan berdiri 2 instruktur itu dan 1 guru mata pelajaran praktik.
"Instruktur utama!"
"Instruktur utama datang!!"
Tak lama kemudian, satu barisan penyihir militer berseragam melangkah rapi ke hadapan para siswa. Dari aura yang terpancar dari tubuh mereka saja sudah bisa dirasakan wibawa itu.
Yang memimpin ternyata justru lelaki paruh baya berjenggot cambang bertampang genit yang tadi bermain-main dengan api di pos jaga—Zhan Kong.
Zhan Kong masih dengan penampilan santai tak peduli seperti itu. Sebagai seorang instruktur utama, sikap lalainya justru sedikit di luar dugaan.